12 June, 2016

Deaf and Da'wah

I got to post this as a reminder for myself.
I have all, I can see, I can hear, I can talk, I can read, I can recite, I live in big Muslim population, I have access to knowledge.

I have everything,
yet,
I .......

No wonder Syeikh Fahad cried.
If he felt embarassed.....

How should I feel?
Ukhti Rebecca, may Allah guide you....
If it wasn't because this episode, I wouldn't ever know this kind of struggle..

Guide us by the Quran, o Allah... :'((

06 June, 2016

unequivocal

Often I am afraid with my energy,
it flares,
sometimes pushing other without me noticing

While you,
you stay like a cool breeze
your steadiness is abiding

I am the one who hold the book open
while you,
you remain a mystery
that force us learning to be unassuming with each other
invite me to submit and look deeper,
to listen
to feel
to observe, closer

you, is you
like me
we are unequivocal human being
with history, feelings, and aspirations

we live with our own wounds from the past
walking toward future upon those scars
it will not be easy
but aren't we learn the most from difficulties?

I hope we both have the courage
to think to discuss to learn
these will not come fast, nor I expect you to be
but,
i am sure that
your simplicity will overcome my shelves of worry

despite my limitations,
do i have something to offer?











22 May, 2016

Gelisah


Pernah satu waktu, saya memutuskan untuk makan siang di taman dan duduk-duduk saja mengamat-amati manusia. Ada masa dimana saya seperti memegang lensa pembesar, masalah kecil terlihat besar dan menggantung-gantung di pikiran. Kondisi yang menyebalkan apalagi ketika masa dimana sedang tidak bisa shalat. Tidak jarang juga saya lupa dan mengambil wudhu saja, hanya untuk mendinginkan pikiran.

Lain waktu, seorang teman seperti tidak bisa menghilangkan kekhawatiran tentang tujuan-tujuan hidupnya. Mendengar ceritanya saya seperti berkaca, meski permasalahannya saja yang berbeda.
Semakin bertambah umur, semakin beragam tantangannya, ujian hidupnya. Kadang saya gugup juga mendengar kisah-kisah di sekitar saya maupun dari media. “oh, masalah seperti itu terjadi tidak jauh dari saya, selalu ada probabilitas saya menjadi salah satu pelaku dalam kisah itu. Will i survive that?” dan kekhawatiran itu kadang hinggap.

·       Ada yang merasa kurang pintar, di tengah komunitas orang-orang yang cerdas.
·       Ada yang merasa kurang harta, di tengah komunitas rekening gendut
·       Ada yang merasa bahagianya kurang lengkap, ketika belum mendapat buah hati
·       Ada yang merasa kurang puas dengan pekerjaannya, di tengah rekan kerja yang memiliki karir yang melesat
·       Ada orang yang mengeluh mengandung anak lagi dan berkali-kali bercanda menyalahkan suaminya, hingga akhirnya amanat itu diambil Yang Kuasa

Tapi, ketika saya mencoba menggali cerita-cerita lain yang pernah saya dengarkan di sisi yang berbeda, hidup itu tetap adil.

·     Ada orang yang merasa bahagia sekali memiliki seorang anak yang mengidap autisme setelah puluhan tahun menunggu dan akhirnya berhasil dengan bayi tabung
·     Ada orang yang pekerjaannya tidak tetap, tapi punya banyak keleluasaan untuk mengurus keluarganya dan menikmati semilir angin di bawah pohon
·   Ada yang bersyukur dengan khusyuk ketika berhasil mengumpulkan receh untuk membayar segelas kopi di plastik dan menafkahi istrinya, dengan recehan
·     Ada orang tua yang harus sekolah malam untuk kejar paket A, agar bisa dapat gaji yang cukup sebagai penyapu jalan

Kurasa, kita cenderung menempatkan hal-hal yang belum kita punya dengan nilai lebih tinggi dari sebenarnya dan membuat kita gugup dan gelisah. Kalau saya berpikir kembali, hal-hal yang belum ada akan berkurang nilainya ketika akhirnya diperoleh. Lalu apa yang membuat hal-hal tersebut menjadi berarti?

Kurasa, ketika kita merasa terhimpit masalah apapun, hal-hal yang paling esensial adalah hal-hal yang membuat kita bahagia tanpa syarat. Bahagia itu sebab, bukan akibat.

Saya mengalami ke-cranky-an luar biasa beberapa waktu lalu, sampai saya perlu berhenti dan berpikir “apa sebenarnya yang membuat saya begitu gelisah?”

Life is not that bad, after all, far from bad.

Kurasa hal-hal yang membuat hidup terasa berat adalah kegelisahan. Saya sendiri mengakui kadang hinggap juga perasaan gugup ketika memasuki tahap hidup yang lebih dewasa ini. Dimana masalah menjadi unik dan kompleks serta melibatkan lebih banyak orang. Nervous to be adult.

Saya mencoba beberapa hal untuk membuat pikiran menjadi lebih ringan, dan hati lebih lapang.
  1. Menambah shalat sunnah. Ulama bilang setiap gerakan shalat mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Allahu Akbar, hanya Allah yang paling besar, segala hal yang menjadi beban kita itu kecil super kecil di mata Allah SWT. Tidak sulit bagi Allah, kadang saya saja yang sombong merasa masalah bisa diselesaikan sendiri
  2. Menyambung kembali hubungan yang intensif dengan Al Quran. There is something about this Book, which can only be felt. Ketenangan yang merasuk, damai.
  3. I’tikaf. Berdiam dalam masjid, tidak perlu menginap, hanya duduk menghadiri majelis atau sekedar berdiam dan perbanyak zikir
  4. Menilai segala hal dalam timbangan yang adil, kalau liat yang buruk, cari fakta lain yang baik. Kalau lihat yang berkelebihan, cari fakta lain yang berkebutuhan. Selalu ada yang lebih buruk, namun selalu ada yang lebih baik, tugas kita hanya memberi nilai tambah yang sesuai dengan apa yang kita punya sekarang. Yakin, kita semua punya modal dan kemampuan itu, hanya tidak sama satu dan lainnya.
  5. Enjoy being different.

Kurasa sangat wajar ketika kita mempertanyakan langkah-langkah yang pernah kita ambil dan mencoba membuat masa depan yang lebih baik, kadang kita juga merasa lelah bahwa apa yang kita kerjakan tidak terlihat menunjukan hasil atau mampu menyelesaikan misinya. 

Namun, kita perlu ingat untuk menempatkan tiap kekhawatiran dan kegelisahan pada tempat dan kadarnya. Tidak terlalu abai, pun tidak berlebihan dengan memikirkannya terus menerus. Kadang kita lupa memberi ruang pada iman.

“Maukah kutunjukkan kalian kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?” tanya beliau. “Jika kalian berbaring di atas tempat tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian daripada pembantu yang kalian minta.” lanjut Nabi (HR. Bukhari dan Muslim).


Selamat berlelah-lelah, semoga semua bernilai ibadah. J

08 May, 2016

Kembali ke Kelas Inspirasi

gunung rahayu-umi-terbaik (4)
 
Apa yang pertama terlintas ketika mendengar Indonesia Mengajar? Anak SD, pendidikan, masyarakat yang mengajar. Begitu pula yang saya pikirkan ketika itu, berbagai orang bersedia mengajar untuk meningkatkan kondisi pendidikan di Indonesia.
 
Desember 2011 itu, kami sepakat untuk merangkul para ‘kelas menengah’ di kota besar untuk ikut andil dalam pembangunan pendidikan. Salut untuk ide Safira Ganis, Ika, dan teman-teman pengajar muda yang baru kembali dari tempat penugasan. Keceriaan itu disebut, Professional Volunteer Program (PVP). Untuk menyederhanakan narasi “membangun gerakan pendidikan masyarakat”, kita mengusung ide kegiatan relawan untuk menjadi gaya hidup “Loe gak keren kalau belum jadi relawan.”
 
Hasil pertemuan itu melahirkan Kelas Inspirasi sebagai wahana/alat/kendaraannya. Idenya sederhana, para kelas menengah pekerja ditantang untuk cuti sehari, berorganisasi dalam kelompok, mempersiapkan materi pengajaran sendiri, lalu mengajar tentang profesi mereka ke anak-anak sekolah dasar. Kenapa profesi? Karena itu materi pengajaran sederhana dan (seharusnya) lebih mudah untuk disiapkan, dan kami melihat wawasan tentang profesi sangatlah terbatas dan dipengaruhi oleh interaksi murid dengan para pelaku profesi tersebut. Akan sangat langka mengetahui seorang anak yang hidup di lingkungan petani, untuk tahu apa itu profesi pengacara.
 
Dari uji coba di satu sekolah, lalu selang 4 bulan (tepatnya 25 April 2012) KI diselenggarakan di 25 sekolah dengan 289 relawan, lalu bergulir eksponensial. Tidak pernah kami prediksikan bahwa KI akan menggeliat cepat hingga bisa diselenggarakan 140-an kali di 70 kota di Indonesia. Semua itu terjadi di tahun ke-lima-nya.
 

Tantangan

Sokola Rimba mencapai traksi nya pada tahun ke-5, ketika Kak Butet merintis Sokola untuk berdiri sendiri dari Warsi. Pelistrikan desa dengan energi terbarukan menjadi masif hampir di tahun ke-5 saya bekerja di bidang ini. Dan saya pikir, KI pun sedang menjalani traksi-nya, tantangan besar ketika sebuah kegiatan yang dikelola secara organik menjadi meluas dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Menjelang lustrum ke-1, gerakan KI ini pun diuji. . Luar biasa pembelajarannya
 
Geliatnya yang sangat cepat dan luas menimbulkan banyak kebingungan. Kebingungan teknis, hambatan untuk dapat mengikuti apa yang dilakukan KI di Jakarta ke KI di kota lain, haruskah ada sertifikat, dsb. Kebingungan teknis yang mungkin disebabkan belum sepahamnya semua orang yang terlibat di gerakan ini.
 
Suatu sore, seorang relawan berdiskusi dengan saya, “Mengapa KI meluas, apakah karena sudah ada template kegiatannya sehingga gampang dibuat?”
 
Kalau berani jujur, mungkin juga benar. Tapi mungkin kita sedang menghadapi risiko yang sangat besar untuk terdistraksi dari tujuan awal ini dibuat, yaitu sebagai sarana mendidik masyarakat untuk mampu eksekusi niat-niat baik, dan mengorganisasikannya sendiri di masyarakat. Apa yang sering ditanyakan teman-teman pegiat KI bukanlah pertanyaan “kenapa?”, “apa tujuan dari kebijakan ini?”,  tapi lebih banyak pada “bolehkah?”, “bagaimana pembukaan dan penutupan acara?”, “sertifikat dan surat, siapa yang buat?” | Kurasa itu perlu dan mendesak, tapi kita lupa bertanya, apakah ini penting?
 
Berbagai pertanyaan itu sangat wajar untuk disampaikan ketika kita ingin membuat kegiatan. Tapi apakah sebatas itu saja kita mau merawat KI? Sebatas jumlah relawan dan seberapa sering kita membuat keriaan KI? Apakah KI masih relevan dilaksanakan ketika sudah banyak orang yang ‘membeli’ ide mengajar di sekolah? Apakah sudah waktunya kita ‘naik kelas’?
 

Tentang Pemerintahan Efektif dan Masyarakat yang Rapi

 “Sekarang saya yakin, tugas pemerintah itu bukan untuk memberdayakan, tapi untuk menjadi efektif. Pemberdayaan masyarakat adalah tugas masyarakat itu sendiri, dari masyarakat yang rapi” -Hikmat Hardono
IM punya ide besar tentang masyarakat yang mampu mengorganisasikan niat baiknya sendiri, seringkali butuh waktu untuk mencernanya. Apalagi untuk saya yang selalu kabur dari acara kemahasiswaan saat berkampus di ITB, dan miskin pelajaran sosial kemasyarakatan. Reaksi teman-teman relawan pun beragam dalam menangkap ide-ide besar ini, ada yang mencoba memahami, tidak sedikit pula yang pragmatis. Tapi kupikir, setiap relawan berhak untuk memilah sejauh mana ia ingin terlibat dalam ide ini.
 
Hampir 5 tahun saya mencoba mencari cara agar masyarakat desa dapat akses listrik yang bertahan lama. Sepanjang itu pula saya bertugas bekerja bersama pemerintah untuk mewujudkannya. Hasilnya, lebih kurang sama seperti yang Pak HH bilang. Membuat pemerintah menjadi efektif saja mungkin butuh waktu sejak Indonesia merdeka hingga sekarang dan masa depan, lebih dari masa hidup saya. Masyarakat yang berdaya, saya pikir butuh waktu sepanjang peradaban. Maka struktur rigid bukan jawaban, tapi bagaimana agar nilai-nilai tetap terjaga namun mampu beradaptasi dengan perubahan.
 
50 IMG_9353
 
 IM dan kita bagusnya sebagai The Multipliers, ini adalah istilah Liz Wiseman dalam bukunya “Multipliers”. Mereka terwujud dalam 5 karakter:
 
  • Talent Magnet:  Menarik orang-orang berbakat dan membuat mereka mengeluarkan kontribusi terbaiknya
  • Liberator : Menciptakan lingkungan yang intens dan membutuhkan pemikiran dan kerja terbaik dari tiap orang
  • Challenger : Mendefinisikan peluang yang membuat orang-orang untuk meluaskan kemampuannya
  • Debate Maker: Mendorong keputusan yang tepat melalui debat yang teliti
  • Investor : Memberikan orang lain rasa memiliki terhadap hasil dan investasi dalam kesuksesannya
Secara sadar atau tidak sadar, tiap relawan sedang di multiplikasi agar menjadi tunas-tunas kebaikan di masyarakat. KI, khususnya, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi empire of volunteers yang rigid dan penuh hirarki, atau berjalan dengan penuh permintaan izin. KI adalah tanaman yang siap menebarkan tunas-tunas kesuburan, tunas-tunas yang mengandung banyak zat kebaikan, yang tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Mungkin dengan pemahaman seperti itu, gerakan ini bisa berlanjut.
 
Akan sangat disayangkan ketika keluasan berpikir kita disibukkan oleh kebutuhan-kebutuhan teknis penyelenggaraan sambil menyampingkan esensi. Saya menantang kita semua untuk berpikir lebih luas dan lebih dalam tentang apa yang sedang kita lakukan, baik itu dalam KI, atau dalam ruang-ruang kontribusi terkecil kita. Benarkah yang kita lakukan hanyalah mencetak sertifikat-sertifikat kerelawanan? Atau laman-laman website, foto-foto terbaru dan terbaik dari kegiatan?
Apakah kita sudah sukses dengan banyaknya relawan yang sudah lebih dari selusin kali mengikuti KI?
Tidakkah kita pantas untuk berpikir kembali mengenai dampak dari tiap keputusan dan kebijakan kita dalam menggiatkan KI?
 
Tidakkah kita pantas berpikir lebih luas dan lebih dalam soal interaksi kebaikan dalam masyarakat?

50 IMG_9551

 Refleksi

Di sisi lain, kita pun perlu melihat apa yang sudah selama ini dilakukan dalam pengelolaan KI di Indonesia. Meminjam istilah Malcolm Gladwell dlm bukunya, David and Goliath, mengenai prinsip legitimasi, yaitu:
 
  1. Setiap orang yang diminta untuk menaati otoritas harus merasa memiliki suara dan didengar ketika menyampaikan pendapatnya
  2. Aturan yang berlaku harus dapat diprediksi, semestinya ada ekspektasi yang beralasan bahwa aturan besok akan kurang lebih sama dengan aturan hari ini
  3. Otoritas mesti berlaku adil
Saya tidak tahu apakah prinsip legitimasi ini pantas untuk disandingkan dengan pengelolaan KI yang tidak memiliki struktur otoritas, ini adalah pertanyaan yang perlu kita jawab bersama. Saya menyampaikan ini hanya untuk membuka diskusi dua arah tentang dua sisi ekspektasi pegiat dalam keberlangsungan KI.
Maka diakhir tulisan ini, saya ingin bertanya pada diri sendiri, dan teman-teman pegiat yang setulus hati merawat Kelas Inspirasi.
Masih perlukah Kelas Inspirasi untuk dilaksanakan dengan bentuknya yang sekarang?
Jika Ya, apa yang ingin kita capai bersama KI? Dalam kondisi seperti apa, KI sudah pantas untuk digantikan dengan inisiatif-inisiatif lain?
Jika Tidak, bagaimana kita akan mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat yang rapi, tanpa KI?
 

24 April, 2016

Anak-anak Risiko

Anak-anak risiko
Kupikir, kita ini memang produk dari banyak risiko yang diambil oleh orang-orang tua kita. Setidaknya itu menurutku, yang lahir dari orang tua angkatan 70an. Generasi orang tua yang hidup di saat Indonesia masih “lucu-lucunya”, masih balita.

Seringkali aku tertawa geli ketika bapak atau ibu cerita bagaimana mereka hidup di tahun itu, tahun 50-70an. Ketika, kakek nenek kami harus cerdik memberi makan anak-anaknya yang rata-rata ada selusin. Sekolah pun masih sekolah rakyat, pakai genteng dan arang. Sedang ibu, sebagai kakak perempuan harus pintar memasak yang cukup untuk saudara-saudaranya. Seringkali harus membuat gorengan buah cempedak yang mungkin perbandingan tepung : cempedak nya setara 10:1, “asal ada baunya sedikit”. Atau bapak, yang harus makan tempe dan nasi yang ditaruh di lemari oleh nenek sebelum beliau berdagang kain dengan sepeda.

Saya rasa harus berterima kasih sedalam-dalamnya atas setiap risiko yang diambil oleh para pendahulu.

Risiko yang bapak ambil untuk keluar dari salah satu desa di Cirebon dan merantau ke Jakarta untuk bekerja. Tidur berdesak-desakan dan harus bangun jam 4 pagi agar bisa kedapatan air untuk mandi. Sekali waktu harus tidur di bangunan rumah yang belum selesai selama beberapa bulan, sebelum akhirnya “diselamatkan” karena kondisinya diketahui orang tua di desa. Sebagai kakak laki-laki tertua dengan banyak adik, kurasa mau tidak mau bapak harus ambil risiko itu.

Untung saja sepertinya bapak memang jatuh cinta pada permesinan, sehingga tidak butuh waktu terlalu lama untuk dapat pekerjaan sebagai mekanik. Lalu bapak ambil lagi risiko kuliah malam, naik motor Honda tua dari Jakarta Pusat ke Srengseng, kampus ISTN. Bahkan untuk kondisi perjalanan dengan tol saja, saya sudah menyerah mendengar rute-nya. Karena tahun itu tidak banyak kampus yang mengajarkan mesin, ISTN itu cukup populer, sehingga kuliah sambil berdiri dan mengintip di jendela itu sering terjadi. Pulang kerja, kuliah, berdiri pula. Tapi risiko itu tetap diambil. Sampai sekarang diktat kuliahnya tidak boleh dibuang lho.

Ibu pernah cerita, pada masa itu, bapak sibuk sekali sampai-sampai tidak ada waktu yang bisa banyak digunakan untuk anak-anak. Saya ingat bapak wisuda waktu saya masih balita, sedang saya masih punya dua kakak, saya berjarak 8 tahun dari kakak tertua. Terbayang yah, lamanya waktu untuk lulus. Tapi risiko itu diambil juga.

Salah satu hal berisiko yang paling saya syukuri adalah ketika Bapak memutuskan pindah dari rumah nenek di salah satu daerah padat di Jakarta. Dengan kondisi masyarakat sekitarnya yang kurang mendukung pertumbuhan anak, bapak ambil tanah di daerah yang juaauuh (menurut standar tahun 80an) dan tanpa listrik. Istilahnya orang betawi Senen, “lu mau bawa kemane tuh bini lu, ke tempat jin buang anak?”. Udah jin, tempat buang anaknya pulak, kampung banget lah. Untuk sedikit menggambarkan ke-kampung-an rumah saya adalah ketika bapak bawa mobil hardtop kantor ke rumah, anak-anak sekitar menunggu dan langsung lompat ke mobil sambil bersorak dan lari-lari mengejar. Belum lagi kalau hujan, si aa mesti melapis sepatunya dengan plastik supaya tidak tenggelam di tanah. Udah cukup kampung belum?

Namun dibalik semua risiko yang diambil bapak, saya rasa ibu juga tidak kalah “gila”-nya. Setelah dilepas untuk pindah dengan bertangis-tangisan, (Iya memang semelankolis itu karena orang betawi memang lebih suka tinggal di dekat saudara-saudara -red) toh dijalani saja tuh. Padahal ibu masih tergolong muda waktu itu, sekitar 23 tahun. Saya jadi mikir, dulu bapak sepik-sepik apa sampe ibu mau (hahahah). Sudah sendirian di kampung, dengan balita, gak kenal siapa-siapa, ditinggal bapak kuliah malam pula (tega juga ya bapak.. hahaha). Kupikir dengan pendidikan ibu yang harus puas di MTs, sepertinya beliau punya keinginan yang melampaui keterbatasannya. Abah (ayahnya ibu) tidak kalah suportif nya, beliau bilang ke bapak, “cari rumah yang ade jalan buat mobil, lu nanti bakalan punya mobil”, sambil mendorong keluarga kecil ini untuk meneruskan keinginannya.

Sampai sekarang, saya tidak yakin tahu semua risiko yang diambil mereka untuk kami. Ketika bapak sudah cukup mapan, adik-adiknya dibawa ke Jakarta untuk kuliah dan tinggal di rumah. Mamang dan bibi tinggal silih berganti mengasuh kami. Saya sebenarnya heran, begitu banyak hal yang diurus bapak dan mimi, tapi saya lihat bukannya berkurang hartanya, tapi semakin berkah. Serba pas. Pas butuh, pas ada. Belum lagi, ibu mulai sibuk di majelis ta’lim dekat rumah dan bantu-bantu mengurus kegiatan di mushalla. Sebelum menolong orang lain kan mesti menolong keluarga dan tetangga yah. J

Kalau dipikir secara rasional, dengan segala keterbatasan yang dimiliki bapak dan ibu, kurasa banyak hal yang bisa membuat mereka takut. Apa yang membuat mereka kuat untuk mengambil risiko yang terpampang nyata (kalo kata syahrini)?

Sebagai ilustrasi mental nekat bapak saya, tadi pagi saya iseng bertanya, “pak, gimana cara nyari tanah atau rumah?” | “liat prospek nya, cari di rencana tata kota nya” | “dulu memang bapak tahu bakal ada kalau daerah rumah akan seperti sekarang (dekat akses tol, busway, dan terminal)?” | “gak tau hehe” | Dang!

Terkadang saya mencoba membayangkan berbagai risiko yang harus saya ambil, akankah saya seberani itu, seberani bapak apalagi. Semakin bertambah umur, semakin banyak pilihan dengan berbagai risikonya. Semakin banyak momen-momen canggung dan menegangkan yang membuat diri sungkan dan enggan.

Tapi pada hakikatnya, manusia selalu digerakkan dengan harapan atau ketakutan. Saya ingin selalu digerakkan dengan harapan, harapan akan kehidupan yang lebih baik, lebih berkah dari sebelumnya, yang melampaui segala keterbatasan. Saya rasa itu juga yang menggerakkan bapak ibu saya, kakek nenek, kakak, teman, saudara, tetangga dan orang-orang yang tidak saya kenal.

Orang-orang yang masih berjualan ketika malam semakin larut dan dagangan belum habis juga. Orang-orang yang melaju dari kota-kota satelit Jakarta dan berangkat sebelum matahari mengedipkan mata. Kakek-kakek yang membawa kelapa dari tangerang ke menteng dengan sepeda, yang berjualan di bahu jalan tol Cipali, orang-orang yang menyeberang jalan tol di antara mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengantar hasil panen ke desa sebelah.

Berdamai dengan risiko bukan hanya milik para pialang saham dan perusahaan, risiko itu ada di denyut nadi manusia sejak ia lahir. Mungkin salah satu nasihat sederhana bapak saya bisa menjadi penguat untuk saya (khususnya) dan yang membaca tulisan panjang ini, haha.
“buat bapak, setidaknya dalam 1 hari ada 1 perbaikan yang bapak buat, apapun itu”
He is a man of his word, sehari dengan bapak pasti akan tahu kebenaran dari ucapannya ini.

Untuk segala risiko yang sedang dan akan kita hadapi: HADAPI dan Rasulullah SAW pernah berkata pada Abu Bakar RA ketika mereka berlindung dari kejaran kaum Quraisy yang hendak membunuh mereka saat perjalanan hijrah ke Madinah
“La takhof wa la tahzan, innallaha ma ana” | Jangan takut, dan jangan bersedih. Allah bersama kita
 Semangat hari Senin! 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...