Sangat mudah untuk menghakimi perempuan-perempuan lajang yang sudah mencapai (bahkan melewati) usia umum untuk berkeluarga. Mereka yang terlihat asyik dengan hidupnya dan dianggap tidak mau bersuami atau menjadi ibu. Sebagian mungkin memang seperti itu, tetapi beberapa umumnya berkebalikan dengan apa yang dituduhkan. Seperti hal nya rezeki, ada jodoh yang ditahan ada yang disegerakan. Sebagian perempuan menjalani hidupnya dengan jodoh yang disegerakan, sebagian lainnya masih ditahan. Suka atau tidak itu sistem yang ada di dunia, dan saya rasa Tuhan punya maksud yang baik atas ini. Menerima kondisi tersebut adalah kewajiban bukan hanya bagi perempuan yang menjalaninya, tapi seluruh manusia. Ada yang bilang perempuan yang ditahan jodohnya ini sebagai orang yang tidak pernah mencari, terlalu pemilih, sudah ‘terlalu’ mandiri, dan berbagai ungkapan kreatif lainnya. Lain dari itu, kalau membeli baju saja dipilih, apalagi suami yang akan jadi ayah dan imam keluarga? Orang yang akan ...
Comments
mungkin bisa lo coba ke gw atau si restu sebagai lawan bicara yg paling sering berargumen dengan lo di kantor.. huakhahaha..
"sabar tiek... sabar..." (ngajak berantem MODE ON)
piss ah.. *kabur..
kalo gw disuruh sabar, gw gak marah tauu moon..weeee
klo gw marah jg mending bner2 diterima di hati drpd maaf manis di bibir aja, ahhaha..
nice simple post..!
@ ayu : makasih yu, pada akhirnya tetap harus mempelajari orang dulu. Terkesan mengalah itu lebih ke teman bicara gw malah terkesan bersalah.. huyaaa...