Skip to main content

kekuasaan yang membosankan

di tengah hiruk pikuknya pencalonan..
dan aku merasa bosan

di tengah aura ambisi ini
aku kehilangan

ya, aku kehilangan banyak perasaan..
aku rasa semua sibuk dengan ambisinya
terlupa, entah sengaja lupa akan banyak hal

semua sibuk menyampaikan mimpinya ke permukaan..
itu bukan mimpi kita
tapi mimpinya..

aku jenuh..
sibuklah kalian dengan pengembangan diri
bukan perbaikan kita..

Comments

ikram said…
wah, kok internet protocol kita sama ya?
Mona said…
makanya, sering diingetin tiek, merekanya... biar gak lupa diri..
hehehe
atiek said…
hahaha... mon.. mon..
saya cuma bosan saja..
iiii.... judulnya 'kekuasaan yang membosankan'!
haha... minggu kemaren akhirnya gue menyelesaikan tanggung jawab organisasi gue di lfm n boulevard.
legaaa....
tapi jadi ada yang kosong juga sih. jadi bingung mau ngapain. hehe,,
Dian Amelina said…
ayo jangan bosan tik..bangun mimpi2mu untuk kita semua..=)
hmm..tapi sebenarnya bosan itu wajar bukan?

P.S : tik klo ada kbr2 terbaru kabarkabari ke saya yah..

Popular posts from this blog

Wisdom of nature

Life is not meant to be seen only from one side, it is resembled in our earth form, that is round and floating Life is meant to be on the move, no matter how slow it is To see that it has its continuum of time That the state of life is temporary As the earth rotates dilligently The darkness is certain, so as the light Difficulties will soon fade, just like happiness Life is meant to be a journey As our earth travels in tranquility It does not move in random, it surely has its own path Its orbit.. To travel cautiously, not to collide with other planets and space objects The earth knows exactly its mission to bring various seasons for human by dilligently rotates and orbitting to send warning about darkness that comes in our way to give hope at dawn to remind people aboutl illussions in our eyes The philosophy of nature is only can be seen when we pause escape to make space in our life and reflect in iteration The image become words the events become senten...

First Chapter: How we met and why we tied the knot?

It’s been a while since my last blogpost. I think my mind rest somewhere or i did not find something interesting enough to be written or maybe i let all those thoughts disappear with time.   Today is the last day in 2016 and I am on my way back to Jakarta from Yogyakarta with Nauval, who vowed to be my life partner a week ago. As a good friend of us had written our story , i feel flattered actually.. I think one story will not hurt anyone. :D So we met in April 2015, if I’m not mistaken, I don’t remember the date. But I do remember the place, and who were involved there. What had happened between May 2015 and December 2016 are only important for us hahaha.   Probably what is important to be shared is why and how I made the decision to marry a person next to me. HOW? I had met Nauval on March 2015 with Agung and Cinta. There was no follow up after the first meeting and I was very OK with that. Life was normal. Meanwhile, my Mom and her relations wer...

Gelisah

Pernah satu waktu, saya memutuskan untuk makan siang di taman dan duduk-duduk saja mengamat-amati manusia. Ada masa dimana saya seperti memegang lensa pembesar, masalah kecil terlihat besar dan menggantung-gantung di pikiran. Kondisi yang menyebalkan apalagi ketika masa dimana sedang tidak bisa shalat. Tidak jarang juga saya lupa dan mengambil wudhu saja, hanya untuk mendinginkan pikiran. Lain waktu, seorang teman seperti tidak bisa menghilangkan kekhawatiran tentang tujuan-tujuan hidupnya. Mendengar ceritanya saya seperti berkaca, meski permasalahannya saja yang berbeda. Semakin bertambah umur, semakin beragam tantangannya, ujian hidupnya. Kadang saya gugup juga mendengar kisah-kisah di sekitar saya maupun dari media. “oh, masalah seperti itu terjadi tidak jauh dari saya, selalu ada probabilitas saya menjadi salah satu pelaku dalam kisah itu. Will i survive that?” dan kekhawatiran itu kadang hinggap. ·        Ada yang merasa kurang pintar, ...