Skip to main content

Posts

Tetap fitaerK !i!

Jeda dari tulisan panjang. Ini adalah pajangan meja di meja saya. Semoga sering dilirik.  Eh ternyata Shally temanku menemukan versi video nya lho..

Ta.bir dan Ja.rak

Tabir n 1   tirai penyekat (pendinding) atau penutup dinding 1 ja·rak   n   1   ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat Ada dua kata yang pada beberapa hal membuat berpikir panjang. Apakah mereka sebaiknya ada, atau kita enyahkan saja, karena keduanya kadang membuat frustasi. Iya, dua kata di atas yang saya tuliskan pengertiannya dari KBBI. “hati-hati mba di laut dengan kapal seperti itu” kata seorang Bapak yang saya temui di sebuah pulau ketika kami mampir untuk shalat di masjidnya. Saya, dua orang teman kantor, dan dua nelayan berputar-putar di area Raja Ampat dengan kapal sekoci putih. Nekat, kira-kira begitulah. Kami punya waktu 12 jam untuk melakukan ini, dengan hasil kulit yang terbakar lumayan parah. Ini adalah perjalanan yang tertunda dari hari sebelumnya karena angin barat melanda perairan sana. Pagi itu lepas Shubuh, kami siap berangkat, pun sudah berpamitan dengan keluarga Nasarudin di Pulau Soop yang asli Buton. Keluar...

Ruang kecil ini

Ruang kecil itu ada di dekat dapur dan ruang makan bersama. Ruang makan itu menghadap taman, sejak kecil aku ingin rumah seperti ini, tapi sekarang diberikan sebagai kantor. Dia memang Maha Baik. Di Ruang kecil itu kami menggelar karpet, ada lemari kecil dan kipas angin di atasnya. Letak lemari itu di pojok, tempat kami meletakkan pakaian shalat dan perangkat lainnya. Dulu hanya ada sajadah sekedarnya, karena dulu yang perlu shalat masih sedikit. Disini kusebut ruang kecil ke dunia lain, dari suara keyboard yang bersahutan, dari gumam diskusi atau latar belakang suara bajaj di jalan depan kantor. Disini tempat karpet karpet sujud dibanjiri tetesan air yang tidak terkontrol. Ruang kecil ini menyimpan berbagai rahasia pikiran yang sering nakal mengganggu ikhtiar. Sst dia mungkin tahu semuanya XP. Tapi bukankah ia peyimpan rahasia yang baik :) Ruang kecil ini, meski sempit dan hanya cukup untuk 3 orang dewasa berjajar, tapi ini tempat terbaik untuk berpikir dan menenangkan pi...

Setangguh Hajar

Seperti kesabaran Siti Hajar yang diuji dengan kesendiriannya Saat Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan ia dan Ismail di Bait al Atik yang kering Seperti kesabaran beliau yang memberanikan diri untuk ikhtiar dan ikhtiar, dari Safa ke Marwa Sampai takdir terbaik dari Allah SWT datang, air zam zam Tempat para musafir berkumpul dan menetap menjadi Mekkah Kesabaran yang mampu meneruskan sejarah kenabian hingga dikaruniakan manusia semulia Nabi Muhammad SAW Sepertinya saya tidak bosan membahas sabar, karena terlalu lemah hingga perlu selalu diingatkan..

Menoleh dan menunggu

Suatu kali di persimpangan jalan, seorang teman meraih tangan dan mencoba menggenggam tangan saya. "kak tunggu.. ". Saya menoleh ke belakang, tidak sadar bahwa saya berjalan bersama teman lain. Lain waktu di sela perpindahan jam kuliah, seorang teman pria berkata "jalan lo cepet juga ya untuk ukuran cewek.. ". Saya cuma menanggapi datar, bukan pujian dan bukan hinaan, yang saya tahu saya sudah tiba di kelas. Tidak jarang saya harus menoleh ke belakang dan menunggu ketika berjalan dengan orang lain. Sekedar merapat ke tembok atau memperlambat langkah. Tidak sadar. Ibu bilang "kamu kalau jalan seperti pakai kacamata kuda", kemudian menyarankan saya untuk pergi ke toko buku sementara beliau berputar-putar sambil belanja. Tidak tahu sejak kapan, tapi saya tidak ingat kapan pernah jalan di belakang. Sesekali pernah, tapi tiba-tiba saya sudah harus menoleh dan menunggu rombongan lainnya lagi. Tidak sadar. Suatu kali teman kos saya pernah berusaha memperlam...

Kenapa kita kecewa?

Sebuah pikiran meluncur masuk begitu saja ke otak, melalui orang-orang yang cerdas dan mampu menjelaskan perihal hakikat hidup. "Ruh manusia berasal dari surga, disanalah kesempurnaan ada. Ketika ia diturunkan ke dunia, maka ia mencari kesempurnaan seperti yang ia temukan di daerah asalnya. Ia terus mencari kesempurnaan di dunia, karena itulah ia sering kecewa sedangkan dunia tidak diciptakan untuk kesempurnaan. Manusia diturunkan ke dunia ini untuk diuji, dan waktu di dunia hanya sementara. Maka rugi sekali ia yang terus-terusan memaksa untuk mendapatkan kesempurnaan atas apapun di dunia, karena itu tidak akan pernah ada di sini. Kesempurnaan hanya ada di sisi Allah SWT, di surga, di tempat ia kembali." Itu juga kalau kita mampu kesana ya.. Oh... lalu saya pun gemetar mendengarnya.. Saya harus ingat ini seumur hidup.

Addis Ababa kesan pertama

Saya mungkin berhutang cerita soal negeri Habasyah (Ethiopia). April 2012, saya diminta bergabung dengan rekan saya ke sebuah pertemuan mengenai akses energi di benua afrika. Asia merupakan salah satu kiblat pembangunan di Afrika, dan Indonesia cukup maju di bidang pembangkitan listrik dari air skala kecil. Pertemuan ini bukan skala besar, namun merupakan jaringan dalam kantor saya. Ethiopia. Saya hanya tahu ia adalah salah satu negara Afrika Timur. Perjalanan 20 jam ditempuh melalui Dubai dan itu merupakan perjalanan panjang kedua saya setelah perjalanan ke kota Haram 5 tahun sebelumnya. Berdua saya pergi dengan rekan saya berkebangsaan Jerman, sekarang dia sudah ditempatkan di Burundi. Afrika adalah impiannya. Senang dan bersemangat, tentu saja, ini Afrika! Tidak sesenang itu hingga saya sadar sejarah hebat negara ini. Saya tiba di Addis Ababa, ibukota yang terletak di dataran tinggi. Kami tidak sabar ingin mengintip Addis dari jendela, dan pemandangan yang paling membu...

Awam

Kapan terakhir kali merasa awam? Maksud saya bukan sekedar tidak tahu, tapi merasa "oh, kemana saja saya selama ini. Gw gak tauuu banget iniii. Ah gini aja belom bisa. aakh bodohh banget sih jadi orang " dan sebagainya. I was and still am, recently in light desperation. Memang kalau mau (merasa) pintar jangan belajar. Karena belajar tidak akan menyelesaikan masalah soal ketidaktahuan. Faktanya, belajar akan membuat kita selalu merasa tidak tahu. Nah itu risikonya. Dan menelan risikonya tidak semudah itu juga. Oh.. Dan terbukti tafsir Al 'Asr ayat ketiga. Iman saja tidak cukup, harus saling menasihati untuk beramal shaleh, beramal shalih juga tidak cukup, harus saling wasiat-mewasiati dalam kesabaran. Sabar dan shalat. Sabar ditulis sebelum shalat. Super duper ultimate ini si sabar. Pak QS bilang sabar adalah menahan gejolak dari hal yang menghalangi kita untuk melakukan/mendapatkan hal yang baik atau lebih baik. Sabar itu cermin kekuatan, makanya berat kan....

unconditional respect

I like Yasmin Mogahed, intelligent, sharp, pious, and her explanation is simple yet get straight to the heart. I found this lecture, duet with other scholar, explaining how to be a man and woman in Islam.  I highlight few messages: That women should learn about unconditional respect, because man highest interest is to be respected.  While men should learn about unconditional love, because women highest appreciation is to be loved. Overall, I found this lecture really enlightning, probably you will find it interesting as well. :D May Allah SWT give us more knowledge to be a better human being. :)

Lari

Belakangan aku tidur awal sekali mungkin aku rindu, padamu, dan lari kepadaMu lari dari segala ide tentangmu, tentang hidup mungkin sedikit harap yang jika digunakan logika, akan tak sampai Hanya satu cara yang aku tahu.. Aku berlari padaMu lari dari segala keinginan yang jauh di atas kemampuanku Lari dengan terburu-buru, tidak sadarkan diri, tersengal kemudian mengarung mimpi hingga terbangun dini hari Keheningannya membuatku jatuh rindu senyapnya seperti sedang mendengarkan ocehanku secara hati-hati dan jawaban yang kudengar sendiri di dalam hati Percakapan monolog dua arah mungkin namanya Sebelum semua pengeras suara bersahut-sahutan merayakan pagi aku tidak ingin terganggu Ini waktuku bercerita tentang aku dan harapanku dan juga mengoceh tentangmu Pendar bulan dalam gelapnya langit senyapmu seperti pelukan yang tiap hari aku butuh menyinari tanpa menyakiti Aku didengarkan dari tempat yang tak bisa kulihat dengan kasat mata mungk...

Some search for gold

I don't understand politics, whoever takes control please stop abusing people. :( Some says a war is needed but please save kids and women from suffering.... #Syria #SOS

Reflect

It's been two years, living a life as a development worker. With temporary type of job, some may say I am one of the amateur people who live in an idealist world. No permanent job with less benefit. Well, that is a "pain" that probably I'd like to get along with or probably it is not a pain. Started with the expectation to change the world, afterall, we are too small to do it alone. I learn to compromise and to be more realistic.  Development sector is indifferent with ,probably, business-like circumstances. There are tight targets, unquestionable tight budget, demanding colleagues, competition. Oh and also, the big lion : politics. To measure performance, all dreams should be pulled into pragmatic measures, which is fine. I am not a big fan of competition, but I am a loyal supporter of collaboration.  When it comes to "good" deeds, the idea of helping other people, et cetera. Expectations become higher yet scattered. Everyone has their own idea ...

Roket!

Sampai juga pada peringatan 1 dekade sweet seventeen . :D Pekerjaan baik meski tidak permanen, tinggal di rumah menyenangkan ibu-bapak, keluarga semakin semarak pertemanan sangat positif, kesempatan menjelajah untuk memahami kefanaan dunia belum sampai di kesempatan membangun keluarga, oh tampaknya karena saya belum cukup ilmu kalau benar jadi ibu.. doakan cepat pintar yaa supaya sampai pada waktunya.. ;) Pelajaran terpenting dalam mencapai umur ini adalah soal berserah, dan menerima batas Ketika seorang alim ulama memaparkan pandangannya soal peran akal dalam hidup manusia Beliau mengibaratkan akal bagai alat pendorong (roket) keimanan agar mencapai tingkatan yang lebih tinggi Pesawat ulang alik membutuhkan roket untuk mendorongnya ke luar angkasa Namun roket akan lepas pada titik tertentu, terkikis sedikit demi sedikit seiring bertambahnya lapisan atmosfer, hingga ia lepas melayang di area tanpa gravitasi Begitulah akal Kita bisa menggunakannya untuk mendorong keimana...

3 years before 30

I remember, Batari - my dearest friend who is now pursuing her doctoral di degree in one of the best university in Japan (oh how i admire her), once sent me a personal email for my birthday. It really made my day, so I decided to do that for her with a little present - this article below from lifehack . I found it very relevant for me too and I can say these are happening, as I also will turn to 27 by the end of this month. I hope you also can get something by reading this, as we do.   ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Article There are so many lessons I wish I had learned while I was young enough to appreciate and apply them. The thing with wisdom, and often with life lessons in general, is that they’re learned in retrospect, long after we needed them. The good news is that other people can benefit from our experiences and the lessons we’ve learned. Some life lessons people should learn early on ...

Air | Tenang

Kalau bisa melihat, 2 tipe air mancur yang berbeda dengan sensasi ketenangan yang berbeda pula Tenang itu mungkin seperti air Mau berkelok, mau disembur-sembur api, mau terhalang batu, tetap tenang mengalir Membawa manfaat Seperti tidak terganggu oleh apapun Kalau terjadi gejolak pun manfaat jadi energi Tekanan yang diberikan padanya mampu membersihkan, lihat saja air berkecepatan tinggi Air tidak baik berdiam, niscaya ia akan keruh Mungkin begitu yang dipikirkan para pemikir muslim, bahkan sejak jaman pertengahan Elemen air menjadi begitu vital dalam proses berpikir, merenung Air mancur yang dibuat bukan seperti air mancur bundaran HI, dilompat ke atas lalu disembur seperti hujan Ketenangannya hadir ketika air diangkat sedikit hingga suaranya hanya gemericik Sejak dulu saya bukan orang yang tenang, gelinjat gelinjut sana sini Ketenangan itu sudah lama bagai benda tak tersentuh, yang sekarang saya pikir menjadi sangat menarik Ah entahlah, mungkin memang sudah masa...

Madinat al Zahra - 1

Hari pertama di Cordoba, saya menyempatkan menonton pagelaran Flamenco, 26 Euro. Saya pikir sudah sewajarnya dengan harga tersebut, ternyata seorang turis di penginapan bilang itu terlalu mahal! Akh.. Memang jika mau menonton flamenco dengan puas bisa dilakukan di pub-pub kota Granada seharga 6 EUR, tapi manalah mungkin saya ke pub malam-malam. Pilihan lainnya adalah menonton flamenco gratisan di Roman Bridge, ah tapi pilihan ini datang terlambat. :D Bagaimanapun saya mendapat pagelaran yang memuaskan dengan harga tersebut, hampir 1.5 jam, dan suasananya kondusif di bawah bulan purnama. Flamenco Menakjubkan melihat ekspresi mereka. Flamenco awalnya adalah bentuk protes komunitas gypsy, dan tarian ini merupakan campuran budaya Spanyol, Gypsy dan Arab. Salah satu komunitas gypsy tertua ada di Sacramento, Granada. Mereka masih tinggal di gua. Sayangnya saya tidak cukup berani kesana karena trauma tidak bisa menolak aksi ramalan mereka di tulisan sebelumnya. Seandainya saya perg...

Ibu bilang

Seringkali Ibu saya bilang "kamu itu orangnya kebanyakan mikir, lakukan saja gak usah kebanyakan mikir." Mungkin sudah takdir saya kebanyakan mikir, terbukti kalau membaca blog ini stock pikiran itu ada saja dari yang absurd sampai yang serius. Tidak heran, bahkan waktu lahir saja saya terbalik, kepala saya masih di dalam perut saking kebanyakan mikir. :D Komentar ibu benar-benar membuat saya berpikir panjang, nah lho mikir lagi. Saya rasa benar juga, dan saya sampai pada tahap berdoa untuk diajarkan bagaimana caranya berbuat. Begini begitu, saya mulai ikut kumpulan orang yang bertukar ide, kemudian sering lari dan sepeda pagi hanya untuk melatih motorik, bantu teman dengan bisnis sosial, beasiswa, kemudian sampai 2 tahun lalu saya bertemu orang-orang dengan mental "kerjain dulu saja, kita akan belajar seiring waktu" sampai terwujud Kelas Inspirasi 1 dan 2. Sungguh modal nekat dan penuh tantangan. Alhamdulillah Allah SWT menggerakkan banyak hati untuk membes...

Memberi kesempatan

Pagi-pagi sekali selepas shubuh, mimi (ibu saya) sudah mengangkat telepon menghubungi para tetangga satu per satu. Minggu ini masjid di dekat rumah ingin mengadakan pembukaan pengajian setelah diliburkan ketika bulan Ramadhan. Biasanya memang seperti itu sehingga kegiatan majelis taklim ibu-ibu akan terpusat dengan program dari pengurus masjid umum. Saya hendak meluruskan badan lagi, tapi memutuskan mengamati kesibukan mimi hari itu. Satu per satu beberapa ibu-ibu tetangga diajak menyumbang konsumsi karena peserta pengajian lebih banyak dari kalangan kurang mampu, nenek-nenek dan janda tua. Sedekah disebar. Mimi pernah bilang, mungkin lebih mudah kalau mimi saja yang sediakan semua atau minta sumbangan sama anak-anaknya. Tapi bukan tersedianya makanan yang jadi tujuan utama tapi membuka peluang sebesar-besarnya bagi siapa saja untuk turut serta bersedekah. Kadang ada yang mengeluh karena ajakan mimi, tampaknya tiap saat ada saja yang diminta. Di lain pihak ada juga yang marah p...

Pledoi para lajang

Sangat mudah untuk menghakimi perempuan-perempuan lajang yang sudah mencapai (bahkan melewati) usia umum untuk berkeluarga. Mereka yang terlihat asyik dengan hidupnya dan dianggap tidak mau bersuami atau menjadi ibu. Sebagian mungkin memang seperti itu, tetapi beberapa umumnya berkebalikan dengan apa yang dituduhkan. Seperti hal nya rezeki, ada jodoh yang ditahan ada yang disegerakan. Sebagian perempuan menjalani hidupnya dengan jodoh yang disegerakan, sebagian lainnya masih ditahan. Suka atau tidak itu sistem yang ada di dunia, dan saya rasa Tuhan punya maksud yang baik atas ini. Menerima kondisi tersebut adalah kewajiban bukan hanya bagi perempuan yang menjalaninya, tapi seluruh manusia. Ada yang bilang perempuan yang ditahan jodohnya ini sebagai orang yang tidak pernah mencari, terlalu pemilih, sudah ‘terlalu’ mandiri, dan berbagai ungkapan kreatif lainnya. Lain dari itu, kalau membeli baju saja dipilih, apalagi suami yang akan jadi ayah dan imam keluarga? Orang yang akan ...

Al Andalus (Andalucia) - Cordoba

Pesawat saya dari Berlin menuju ke Malaga. Sebuah kota di pantai yang jadi tujuan wisata banyak orang Jerman, kenapa? Karena tarifnya paling murah. :p Sambil naik pesawat 3 jam tanpa hiburan, saya menonton episode 29 serial Umar bin Khattab. Luar biasa Khalifah ini, tidak tahan saya harus menyembunyikan mata yang sembab karena melihat ilustrasi Umar RA yang tersaruk-saruk membawa karung terigu dan mengajarkan seorang ibu dari 4 anak untuk membuat roti. Sebelumnya ia mendengar anak dari ibu tersebut yang menangis terus menerus, dan Umar RA menegurnya karena ia terlihat abai. Ibu itu berkata, anak saya lapar dan saya tidak ada makanan, saya hanya mengaduk-aduk panci agar mereka tenang seolah saya sedang membuat makanan. Sontak Umar RA ketakutan akan tanggung jawabnya, setengah berlari mengambil kantung terigu dari Baitul Mal dan memikulnya sendiri ke tempat ibu tersebut. Beliau bahkan menghardik Aslam, asistennya yang memaksa ingin memikul kantong tersebut, "Apa kamu mau menangg...