Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cynical

Tuanku haji

Ramadhan belum saja mulai, Sya'ban pun belum akhir tapi berita berdesakan mengantri zakat sudah muncul di televisi. Cerita sama yang terus berulang, pengusaha muslim yang membagikan zakat pribadi pada ribuan rakyat miskin. Tebal-tebal sekali lembaran 10 ribu dan 20 ribu yang tersembul di kantong baju taqwa (koko) nya. Tak ketinggalan kilatan lampu dan kamera yang siap menangkap momen-momen 'mengharukan' ini. " Tuanku Haji, sedekahkan harta dengan cara yang memanusiakan manusia: anda dan penerimanya. " Yah, saya memang sinis. Mohon maafkan kesalahan saya dari tulisan dan lisan saya yang sering sembrono. Lidah tak bertulang, tulisan tak kenal siapa yang membacanya. Semoga saja hal-hal yang kurang berkenan hanya karena kurangnya pengetahuan bukan lemahnya iman. Selamat datang Ramadhan. :)

keadilan di jalan

Yang terhormat pengguna kendaraan bermotor. Saya baru mencicip jalanan berbukit ini selama 6 bulan menggunakan sepeda. Tidak terlalu lama seperti kalian mungkin. Kita semua tau begitu curamnya tanjakan menuju dago atas, dan butuh tenaga ekstra bagi saya yang mengandalkan kekuatan kaki. Ya, saya menggunakan sepeda yang tidak menggunakan motor, tidak punya spion, tidak punya lampu sein, tapi saya gunakan lampu hazard dan senter depan kalau-kalau pengendara lain sulit mendeteksi keberadaan saya saat berkendara malam hari. Saya gunakan helm sebagai peranti keselamatan saya sendiri sehingga tidak perlu menyalahkan siapapun jika hal buruk terjadi. Saya menggunakan tangan untuk meminta jalan kepada pengendara lain, hal yang membuat saya paling takut adalah memotong jalan kalian para pengguna kendaraan bermotor. Saya tidak secepat dan selincah kalian, memotong jalan bagi saya membutuhkan waktu lebih lama. Menggunakan satu tangan kadang mengurangi keseimbangan saya, sehingga seringkali say...

?

Ah, sebenarnya saya tidak terlalu tertarik membahas film '?' ini. Kenapa saya akhirnya menulis tentang film ini? karena beredar banyak artikel yang mengecam dengan terang-terangan. Jujur saya, saya dan dua teman saya yang menonton tidak merasakan efek apa-apa. Film itu seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak, hilang tak berbekas di pikiran saya. Percaya atau tidak, yang membekas di saya hanyalah dramatisasi babak akhir yang menurut saya 'diada-ada-kan'. Hingga saat adegan itu ditayangkan saya bergumam 'non-sense!' *hei ini pendapat pribadi sekali ya* Sungguh saya belum dalam memahami agama saya sendiri, maka saya tidak akan membahas penyimpangan film ini seperti yang dibahas pada artikel-artikel lainnya.  Sungguh saya tidak pernah melakukan diskriminasi yang dilakukan oleh sebagian peran muslim yang ada di film itu, pun tidak pernah mengalami diskriminasi oleh penganut agama lain. Saya tidak akan berkomentar tentang ini.  Sungguh saya tidak tahu efek film i...

Prihatin

"gw naik taksi, supirnya gak lancar bahasa Indonesia, terus di tangannya zikir terus gitu. Haduh gw khawatir, jangan-jangan di taksi gw ada bom lagi." "wah, dokternya kaya teroris deh, bajunya panjang, di jidatnya ada 2 lingkaran hitam (biasanya dikaitkan dengan sering bersujud)." Tampaknya saya akan sering mendengar komentar ini, di negara ini, bahkan dari lingkungan terdekat saya. Maraknya kekerasan dengan mengangkat-angkat identitas agama tampaknya jadi kontraproduktif bagi penganutnya sendiri yang tidak terlibat dengan aksi kelompok kecil tersebut. Entah apa tujuan dari segala kekerasan yang terjadi, yang saya tahu saya prihatin bahwa beberapa kejadian tersebut membuat sesama umat saling mencurigai.  Bagaimanapun kebenaran tetap perlu disampaikan dengan cara yang benar dan santun.

'pengamanan'

kalau energi berasal dari kotoran manusia dan hewan, serta sampah sehari-hari, kemudian terjadi genosida di negara penghasil energi itu, apakah negara-negara lain akan turut melakukan 'pengamanan' yang ekstra hebat? kalau energi dari kotoran dan sampah, perlukah campur tangan negara-negara lain dalam proses 'demokratisasi' negara penghasil energi tersebut? kalau tiap negara tidak menggantungkan sumber energinya ke negara lain, mungkinkah frekuensi perang dan aktivitas penghabisan energi lewat tank-tank dan senjata berat itu bisa berkurang? dan kalau semua negara sudah tidak menggantungkan energi ke negara lain, apakah akan tiba masa negara melakukan 'pengamanan' pasokan air dari negara lain?  kekayaan dan kekurangan memang ujian buat manusia. rasanya teman-teman punya pertanyaan lain yang lebih menarik ya.. - dan ini adalah tulisan saya yang ke-200. yay!

se.ku.ler

Ah macam mana pula saya sok-sok-an ngomongin sekulerisme. aishh. Entahlah tapi terkadang saya bertanya-tanya  bentuk sekulerisme seperti apa yang didengung-dengungkan ingin diterapkan di Indonesia?  Saya agak berdebar-debar jika membaca pengertian sekulerisme " secular     spirit   or   tendency,   especially   a   system   of   political   or  social   philosophy   that   rejects   all   forms   of   religious   faith   and  worship."  dari kamus   Memisahkan agama atau keyakinan dari kehidupan sehari-hari dan bernegara? apa ini maksudnya agama hanya sekedar ritual?  Saya tidak setuju kalau begini. Kenapa? (Pendapat saya tentu berlandaskan atas keyakinan saya akan Islam) Seorang ulama bilang dalam mendidik umat, dahulukan tauhid. Keyakinan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri, bahwa Ia selalu melihat apa yang kita kerjakan, Ia tahu apa ...

Pernikahan

Pernikahan itu apa sih?  Mengetahui bahwa jodoh itu adalah orang yang akan berkumpul bersama kita di rumah akhirat itu membuat saya bertanya-tanya. Jadi siapa yang tingga bersama kita di rumah dunia? Lalu logika terbalik pun dimulai. Oh pantas saja ada orang yang rela-rela saja dijodohin, membelakangi cerita-cerita putri-putri yang mencari pangeran kuda putih atau kuda sumbawa.(kuda liaar kali bok) Oh pantas saja perasaan / chemistry itu bisa tiba-tiba saja hilang di antara pasangan *korban nonton acara selebriti* Oh pantas saja, pasangan yang tadinya mengaku saling soulmate, tiba-tiba bisa jadi bermusuhan. Oh pantas saja ada poligami Oh pantas saja ada orang perceraian dibolehkan dan diatur dalam Islam. Oh pantas saja ada yang menikah berkali-kali karena pasangannya 'mendahului' Oh pantas saja ada orang yang tidak menikah seumur hidupnya. Lalu pernikahan di dunia itu untuk apa? Legalisasi proses reproduksi agar lebih bermartabat? Atau salah satu cara mengisi ...

Idola Cilik, sudahkah adil?

Sore ini selepas pergi bersama teman untuk menonton pertandingan tenis, saya menemukan para penghuni kos sedang berkumpul di ruang tengah untuk menyaksikan idola cilik. Saya merasa kangen nonton acara ini, karena dulu saat belum masuk babak 14 besar,saya sering sekali menonton acara ini.  Sebuah ajang bagus untuk pengembangan minat dan bakat anak-anak, sekaligus memberikan inspirasi bagi ribuan pemirsa kecil lainnya yang terlalu bingung dijejali sinetron-monolog-yang-mengumbar-gambar-orang-melotot. Lucu dan menyenangkan sekali pada awalnya, hingga pada sore ini pandangan saya terusik pada sistem eliminasi idola cilik. Menit demi menit saya mencoba menikmati rangkaian babak hasil "result show", tapi yang berputar di kepala saya hanya "kenapa begini? kenapa begitu?" Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari teman-teman kos yang mendukung Cakka dan Obiet, serta satu orang yang mendukung Irsyad. Saya coba buatkan rangkaiannya. Para kontestan cilik diberi kesempatan...

pernikahan saat malam dan pagi menjelang

Pernikahan 26-27 Januari di kedua hari tersebut saya belajar tentang arti pernikahan. saya melihat betapa kontrasnya kehidupan yang akan dijalani dalam pernikahan. hari pertama 26 Januari pernikahan teman saya, yang dihadiri hampir seluruh alumni 2004 siswa sma 8 jakarta. apa yang saya pelajari? kebahagiaan sebuah permulaan, yang mana diliputi pelangi kebahagiaan baik pasangan maupun keluarga dan kerabat. Pernikahan membutuhkan keberanian untuk memulainya. Berani untuk bertanggung jawab atas hidup orang lain, berani untuk mengambil keputusan yang tidak individualis, berani untuk berjalan dan dilihat oleh beratus atau ribuan pasang mata yang melihat tanpa ragu terhadap dandanan, gerakan, saya jamin pasti gugup!, berani untuk berdiri di panggung sambil tersenyum dan menyalami orang-orang yang mungkin kenal mungkin tidak, saya membayangkan betapa pegalnya, pegal, pegal. Untuk wanita, berani untuk menghadapi penata rias yang kadang-kadnag galak.. hehehe. Lalu apa yang saya temui di hari be...

kekuasaan yang membosankan

di tengah hiruk pikuknya pencalonan.. dan aku merasa bosan di tengah aura ambisi ini aku kehilangan ya, aku kehilangan banyak perasaan.. aku rasa semua sibuk dengan ambisinya terlupa, entah sengaja lupa akan banyak hal semua sibuk menyampaikan mimpinya ke permukaan.. itu bukan mimpi kita tapi mimpinya.. aku jenuh.. sibuklah kalian dengan pengembangan diri bukan perbaikan kita..

Feminisme.

feminisme. kata yang terngiang-ngiang di kepala sedari sekolah setelah sd (alias smp) bingung. begitu banyak orang yang mendengung-dengungkan feminisme padahal dari pemutaran saraf-saraf di otak saya yang kecil ini terpikir, penghargaan pada wanita akan datang dengan sendirinya saat tiap-tiap orang yang terlibat, ya wanita, ya pria, sama-sama sadar dengan kodratnya, dan sadar posisi mereka sebenarnya di dunia. kadang saya muak dengan komentar-komentar tajam tentang posisi wanita .. ya inilah.. itulah.. menuntut sekali.. fokus aja sama apa yang bisa diberikan.. wanita memang makhluk yang kompleks.. begitu kuat tetapi rapuh.. ia bagai perpaduan hal-hal yang bertolak belakang. . mengutip quote dari buletin yang sering beredar di kelas : kaum hawa dicipta dari rusuk Adam, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasnya, bukan dari kakinya untuk dijadikan alasnya, melainkan dari sisinya, untuk dijadikan teman hidupnya, dekat pada lengannya untuk dilindungi, dan dekat pada hatinya untuk dicinta...